thumbnail

Pengertian Qona'ah - Ikhlas Menerima Pemberian-Nya

Pengertian Qona'ah - Ikhlas Menerima Pemberian-Nya

Pengertian Qona'ah
Qana’ah adalah rela dan menerima pemberian Allah Swt adanya khususnya dalam hal rezeki.

Qona’ah merupakan salah satu sifat orang mukmin sejati. Dengan sikap ini, ia akan selalu merasa bahagia dan tenteram dalam menjalani hidup. Sifat qonaah ini pula yang membuatnya tidak tamak (serakah) dan mampu menahan keinginan hawa nafsu duniawi.

Qona’ah adalah sikap menerima dengan ikhlas pemberian Allah SWT, apa adanya, dengan kondisi apa pun, dengan keyakinan itulah yang terbaik baginya sesuai iradah (kehendak) Allah SWT karena hanya Dia Yang Mahatahu yang terbaik bagi dirinya.

Sifat atau sikap qonaah muncul karena keyakinan dalam diri bahwa reezeki telah tertulis atau dietapkan Allah SWT sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya.

Dalam hadits dari Ibnu Mas’ud ra disebutkan, Rasulullah Saw bersabda:

“Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Sikap qonaah juga dibangun dari kesadaran dan keyakinan, bahwa Allah SWT menentukan perbedaan rezeki dan tingkatan seorang, ada kaya-miskin, kelebihan dan kekurangan, supaya terjadi dinamika kehidupan, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian, serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberi kan pelayanan dan jasa.

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentu kan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. az-Zukhruf:32)


Berikut ini hadits-hadits tentang qanaah dan keutaman qonaah:


“Terimalah (dengan ridha) pembagian yang Allah tetapkan bagimu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya” (HR. Muslim).

Qona'ah


"Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup" (HR. Bukhari dan Muslim).

“Siapa di antara kalian yang merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan pada badannya, dan ia memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah ia telah memiliki dunia seluruhnya.” [HR Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Dalam kitab Syarah Shahih Muslim disebutkan, arti sabda “yang secukupnya” adalah “yang sekadar memenuhi kebutuhan, tidak lebih dan tidak kurang”.

Nasihat bijak mengatakan, untuk hidup bahagia, kita harus berusaha memenuhi kebutuhan (need), bukan mengejar keinginan (will).

Kebutuhan adalah yang kita perlukan untuk menjalani hidup. Keinginan adalah angan-angan, bahkan hawa nafsu, sehingga muncul istilah “keingian tiada akhirnya” karena setelah satu keinginan dicapai, keinginan lain akan muncul. 

Demikian Pengertian Qona'ah - Ikhlas Menerima Pemberian-Nya. Wallahu a’lam.*

Inilah Islam
Inilah IslamUpdated: Sunday, June 24, 2018
thumbnail

Jilbab vs Cadar dan Hukumnya dalam Islam

Jilbab vs Cadar dan Hukumnya dalam Islam
APAKAH menggunakan jilbab/hijab hukumnya wajib? Ya. Wajib. Apakah memakai cadar hukumnya wajib? Tidak.

Mengenakan cadar merupakan keutamaan, namun harus dipertimbangkan dari aspek sosial karena memakain cadar membuatnya tidak bisa dikenali.

Banyak yang memakai cadar ber-swafoto (selfie), namun bagaimana orang mengenalinya hanya dari mata? Mungkin, foto itu hanya untuk dirinya dan temannya sesama pengguna cadar.

Tidak Wajib

Tidak ada satupun dalil dalam Syariat Islam yang mewajibkan Muslimah pakai cadar.

Islam menganjurkan umat untuk berpakaian dengan memenuhi tiga hal utama:

1. Menutup Aurat
2. Mudah dikenali
3. Indah namun tidak mengundang nafsu.

Jika ketiga hal itu terpenuhi dalam adab berpakaian, maka ia sudah sesuai dengan syariat Islam.

Syariat Islam tidak menganjurkan wanita muslimah memakai cadar apalagi mewajibkannya.

Memakai cadar tidak dilarang, tetapi jika berada di tempat tempat tertentu yang mengharuskan untuk membukanya, maka wajib membukanya seperti untuk alasan keamanan atau kepentingan identifikasi.

Wajah adalah identitas manusia yang dengan itu kita bisa mengenali dan membedakan yang mana wanita dan yang mana pria, maka jika manusia menutup wajahnya rapat rapat dengan cadarnya sehingga tidak bisa dikenali maka ini melawan fitrah manusia dan melawan syariat juga.

Diriwayatkan oleh Abu Daud, Asma binti Abu Bakar pernah menghadap Nabi Muhammad Saw dengan mengenakan pakaian yang tipis, lalu Nabi Saw berpaling seraya berkata:

“‘Wahai Asma, apabila wanita telah mengeluarkan darah haid (sudah dewasa), maka tidak boleh tampak dari tubuhnya selain ini dan ini,’ dan beliau berisyarat kepada wajah dan kedua tangannya.”

Allah SWT memerintahkan kaum Muslimah mengulurkan kerudung ke dada, menutipi bagian dada.

"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” (QS. An-Nur: 31 ).

Demikian hukum memakai cadar. Jilbab vs Cadar dan Hukumnya dalam Islam. Wallahu a'lam bish-shawabi.

Baca Juga: Hukum Memakai Cadar dalam Islam

Inilah Islam
Inilah IslamUpdated: Monday, June 18, 2018
thumbnail

Amalan Sunah Menjelang Idul Fitri

Amalan Sunah Menjelang Idul Fitri
APA saja amalan sunnah menjelang Idul Fitri?

Rasulullah Saw memberi contoh, amalan sunah menjelang idulfitri antara lain mandi atau membersihkan diri sebelum berangkat shalat id, makan, minum, berhias secukupnya dengan pakaian terbaik, dan takbir.

Syekh Muhammad Shalih Al Munjid dalam buku Al Id Adabuhu waw Ahkamuhu sebagaimana dikutip Republika memaparkan beberapa amalan sunah yang dianjurkan sebelum melaksanakan shalat Id.

Mandi

Sebelum berangkat shalat disunahkan membersihkan diri dengan mandi.

Menurut Imam Nawawi, para ulama bersepakat soal sunah mandi sebelum shalat Id. Bila hendak menunaikan shalat Jumat saja dianjurkan mandi, tingkat kesunaan mandi pada hari raya jauh lebih besar.

Makan

Disunahkan makan alakadarnya sebelum berangkat ke tempat shalat Id. Anas bin Malik ra berkisah tentang kebiasaan Rasululullah Saw memakan sejumlah butir kurma beberapa saat ketika hendak keluar rumah menuju tempat shalat id.

Menurut Ibnu Hajar, makan sebelum shalat id guna mengantisipasi "kelebihan puasa" pada hari itu. Entah karena sebab lupa atau faktor lainnya. Bagi mereka yang tidak mendapatkan kurma, bisa menggantinya dengan alternatif menu makanan ringan lain.

Amalan Sunah Menjelang Idul Fitri: Takbir

Takbir Allahu Akbar
Takbir adalah mengucapkan kalimat thayibah "Allahu Akbar" (Allah Mahabesar). Takbir diperintahkan Allah SWT dalam Al-Quran.

"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu membesarkan namaAllah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur" (QS. Al-Baqarah: 185)

Di Indonesia, malam sebelum idul fitri, dikenal dengan malam takbiran, yaitu aktivitas bertakbir sepanjang malam hingga subuh.

Mengumandangkan takbir sejak malam sebelum shalat id dilaksanakan hingga shalat id selesai dikerjakan merupakan tradisi para sahabat. 

Abdullah bin Umar, misalnya, bertakbir sejak malam hingga imam usai memimpin shalat Id.

Riwayat lain menyebutkan, Rasulullah Saw dan para sahabat takbiran sejak keluar rumah hingga smapai di tempat shalat Id.

Ibn Abi Syaibah meriwayatkan, Nabi Saw keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai sahalat selesai. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibn Abi Syaibah)

Dari Nafi: “Dulu Ibn Umar bertakbir pada hari id (ketika keluar rumah) sampai beliau tiba di lapangan. Beliau tetap melanjutkan takbir hingga imam datang.” (HR. Al Faryabi).

Dari Muhammad bin Ibrahim (seorang tabi’in), beliau mengatakan: “Dulu Abu Qotadah berangkat menuju lapangan pada hari raya kemudian bertakbir. Beliau terus bertakbir sampai tiba di lapangan.” (Al Faryabi).

Pakaian Terbaik

Di hari lebaran disunahkan berhias diri secukupnya, seperti menggunakan pakaian yang laik, memakai wangi-wangian, dan tampil menarik pada hari kemenangan itu. 

Jabir bin Abdullah bertutur, Rasulullah Saw sengaja menyimpan dua potong baju yang khusus dikenakan di Idul Fitri. Hal ini mengilhami para sahabat. Abdullah bin Umar tiap kali Lebaran mengenakan busana yang paling bagus.

Syekh Shalih juga menyebut aktivitas berpahala menyambut Idul Fitri, yaitu saling berbagi ucapan dan doa. 

Diriwayatkan dari Jabir bin Nufair, para sahabat menggunakan momentum Idul Fitri untuk saling menyampaikan selamat atas kesuksesan menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Dengan harapan, segala amalan itu berdampak pada pribadi dan mendapat ganjaran-Nya.

Demikian Amalan Sunah Menjelang Idul Fitri. Wallahu a'lam bish-shawabi.*

Inilah Islam
Inilah IslamUpdated: Tuesday, June 12, 2018
thumbnail

Hukum Shalat Sebelum Waktunya

Hukum Shalat Sebelum Waktunya

Hukum Shalat Sebelum Waktunya
TANYA: Assalamu’alaikum Wr.Wb.Bgm hukumnya apabila di suatu mesjid sudah azan lalu iqomat & shalat berjamaah, tapi ternyata blm wktnya?Wassalam. 087823208XXX

 JAWAB: Wa’alaikum salam wr. Wb.

Jika disengaja, jelas tidak boleh, karena waktu shalat itu sudah ditentukan oleh Allah SWT dan kita wajib mengikutinya, tidak boleh mengubahnya.

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. An-Nisa’:103).

Shalat yang dikerjakan sebelum waktunya tidak menggugurkan kewajiban. Artinya, harus diulang lagi shalatnya ketika sudah masuk waktunya.

Soal adzan, jika disengaja, adzannya juga bisa termasuk berdusta atau “kebohongan publik” karena menyebarkan kabar bohong kepada umat Islam tentang waktu shalat.

Kalau adzan itu tidak sengaja, misalnya salah lihat jadwal waktu shalat atau jam, tidak apa-apa. Allah SWT mengampuni perbuatan hamba-Nya yang lupa, tidak disengaja, dan terpaksa.

Demikian perihat shalat sebelum waktunya. Wallahu a’lam.*

Inilah Islam
Inilah IslamUpdated: Tuesday, June 05, 2018
thumbnail

Hukum Bersalaman Usai Shalat Berjamaah

Hukum Bersalaman Usai Shalat Berjamaah

Hukum Bersalaman Usai Shalat Berjamaah
TANYA: Di kalangan kaum Muslim Indonesia, ada tradisi berjabat tangan usai shalat berjamaah. Bagaimana hukumnya?

JAWAB: Hukum Bersalaman Usai Shalat Berjamaah itu BOLEH (mubah), tidak dianjurkan juga tidak dilarang, sehingga mubah.

Tidak ada atau belum ditemukan dalil yang mengharuskan bersalaman usai shalat berjamaah. Yang ada, adalah anjuran bersalaman kapan saja, di mana saja, khususnya saat bertemu dan berpisah dengan sesama Muslim.

Anas bin Malik ra dan Asy Sya’bi mengatakan:

كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إذا تلاقوا تصافحوا وإذا قدموا من سفر تعانقوا

“Para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika saling bertemu mereka bersalaman, dan jika mereka datang dari safar mereka saling berpelukan”

ما من مسلمين يتلاقيان فيتصافحان إلا تحاتت عنهما ذنوبهما كما يتحات عن الشجرة ورقها

“Tidaklah dua orang muslim berjumpa lalu bersalaman, kecuali akan berguguranlah dosa-dosa keduanya sebagaimana bergugurannya dedaunan dari pohonnya" (HR.  Abu Daud, At-Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad).

Soal bersalaman seusai shalat berjamaah, ulama asal Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, mengatakan:

“…yang dilakukan oleh sebagian orang, yaitu langsung bersalaman setelah shalat fardhu, tepat setelah salam kedua, saya tidak tahu dasarnya. Yang tampak malah itu makruh karena tidak adanya dalil, lagi pula yang disyariatkan bagi orang yang shalat pada saat tersebut adalah langsung berdzikir, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Nabi Saw setelah shalat fardhu. (Fatawa Muhimmah Tatallqu Bish Shalah, Syaikh Ibnu Baz).

Syekh Ibnu Taimiyah mengatakan, bersalaman setelah shalat tidak dilakukan Rasulullah Saw dan tidak pernah disunnahkan oleh para ulama.

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin:

“Salam-salaman yang demikian (rutin setelah shalat) tidak kami ketahui asalnya dari As Sunnah atau pun dari praktek para sahabat Nabi radhiallahu’anhum. Namun seseorang jika bersalaman setelah shalat bukan dalam rangka menganggap hal itu disyariatkan (setelah shalat), yaitu dalam rangka mempererat persaudaraan atau menumbuhkan rasa cinta, maka saya harap itu tidak mengapa. Karena memang orang-orang sudah biasa bersalaman untuk tujuan itu. Adapun melakukannya karena anggapan bahwa hal itu dianjurkan (setelah shalat) maka hendaknya tidak dilakukan, dan tidak boleh dilakukan sampai terdapat dalil yang mengesahkan bahwa hal itu sunnah. Dan saya tidak mengetahui bahwa hal itu disunnahkan” (Majmu’ Fatawa War Rasa-il).

Imam An-Nawawi berkata:

“Ketahuilah bahwa bersalam-salam adalah sunnah dalam setiap kali pertemuan. Dan apa yang dibiasakan orang setelah shalat subuh dan shalat ashar itu tidak ada asalnya dari syariat, dari satu sisi. Namun perbuatan ini tidak mengapa dilakukan. Karena asalnya bersalam-salaman itu sunnah dan keadaan mereka yang merutinkan salam-salaman pada sebagian waktu dan menambahnya pada kesempatan-kesempatan tertentu, ini tidak keluar dari hukum sunnahnya bersalam-salaman yang disyariatkan secara asalnya. Ia merupakan bid’ah mubahah” (Mirqatul Mafatih).

Secara umum, bersalam-salaman (jabat tangan) itu sunah Rasul. Islam menganjurkan demikian untuk memperkuat kasih sayang dan ukhuwah sesama Muslim.

Namun, dalil-dalilnya berlaku umum dan tidak ada satu pun yang menyebutkan soal berjabat tangan usai shalat berjamaah.

مامن مسلمين يلتقيان، فيتصافحان، إلا غفر لهما، قبل أن يتفرقا

“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu mereka bersalaman melainkan Allah ampuni mereka berdua sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dengan sanad yang shahih)

قلت لأنس: أكانت المصافحة في أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم؟ قال: نعم

Aku berkata kepada Anas: apakah bersalaman di lakukan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Dia menjawab: “Ya.” (HR. Bukhari).

Demikian Hukum Bersalaman Usai Shalat Berjamaah. Kesimpulan: hukumnya boleh (mubah), asalkan tidak diyakini sebagai keharusan ataupun bagian sari prosesi shalat. Wallahu a'lam bish-shawabi.*

Inilah Islam
Inilah IslamUpdated: Sunday, June 03, 2018
thumbnail

Ilzaq: Hukum Menempelkan Telapak Kaki Saat Shalat Jamaah

Ilzaq: Hukum Menempelkan Telapak Kaki Saat Shalat Jamaah. Memepet-mepetkan kaki ke kaki orang lain.

Ilzaq: Hukum Menempelkan Telapak Kaki Saat Shalat Jamaah
TANYA: Saya juga merasakan seperti itu juga bila sholat berjamaah harus bersentuhan jari kelingking (menempelkan telapak kaki) merasa geli dan tidak dapat berkonsentrasi sholat, mungkin ada penjelasan lain yang lebih pasti atas penjelasannya? terima kasih. (Agung).

JAWAB: Rapat dan rapi dalam shaf (barisan) shalat berjamaah itu bagian dari kesempurnaan atau keutamaan shalat (min tamamish sholah).

Dari Abu Mas’ud al Badri, ia berkata: Dahulu Rasulullah SAW biasa mengusap bahu-bahu kami, ketika akan memulai shalat, seraya beliau bersabda: “Luruskan shafmu dan janganlah kamu berantakan dalam shaf; sehingga hal itu membuat hati kamu juga akan saling berselisih”. (HR Muslim).

“Luruskanlah shaf, rapatkanlah bahu-bahu, dan tutuplah celah. Namun berlemah-lembutlah terhadap tangan-tangan saudara kalian. Dan jangan biarkan ada celah diantara shaf untuk diisi setan-setan. Barangsiapa menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya, dan barangsiapa memutuskan shaf niscaya Allah akan memutusnya” (HR Abu Daud).

Rasulullah Saw mengajarkan demikian: shaf shalat harus rapat dan rapi. Namun, itu tidak menjadi bagian dari rukun dan syarat sah shalat jamaah. Artinya, tidak rapat/rapi pun tetap sah shalatnya, namun tidak sempurna.

Namun demikian, jika sentuhan jari kaki itu menyebabkan shalat tidak khusyu, maka hindari saja, tapi jangan terlalu jarang, mungkin jarak satu cm, toh khusyu’ lebih utama daripada sentuhan jari kaki demi rapat/rapi.  

Pendapat Syekh Al-Abani

Keharusan menempel Kaki (menempelkan mata kaki/telapak kaki) saat Sholat Berjama’ah --dikenal dengan istilah ILZAQ-- adalah pendapat Syaikh al-Albani atau Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Sifat Sholat Nabi berdasarkan hadits shahih berikut ini:

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ»

"Dari Anas bin Malik dari Nabi Muhammad shallaAllah alaih wasallam: ”Tegakkanlah shaf kalian, karena saya melihat kalian dari belakang pundakku.” Ada di antara kami orang yang menempelkan bahunya dengan bahu temannya dan telapak kaki dengan telapak kakinya." (HR. Al-Bukhari).

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ, حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا, عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ الْجَدَلِيِّ, قَالَ أَبِي: وحَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ, أَخْبَرَنَا زَكَرِيَّا, عَنْ حُسَيْنِ بْنِ الْحَارِثِ أَبِي الْقَاسِمِ, أَنَّهُ سَمِعَ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ, قَالَ: أَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَجْهِهِ عَلَى النَّاسِ, فَقَالَ: ” أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ, ثَلَاثًا وَاللهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ ” قَالَ: ” فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ, وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَتِهِ وَمَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِهِ

"An-Nu’man bin Basyir berkata: Rasulullah menghadap kepada manusia, lalu berkata: Tegakkanlah shaf kalian!; tiga kali. Demi Allah, tegakkanlah shaf kalian, atau Allah akan membuat perselisihan diantara hati kalian. Lalu an-Nu’man bin Basyir berkata: Saya melihat laki-laki menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya, dengkul dengan dengkul dan bahu dengan bahu" (HR Bukhari, Abu Daud, Ahmad, Ad-Daraquthni, Al-Baihaqi).

Jadi, setelah Nabi Saw memerintahkan merapikan dan meluruksn shaf, sahabat yang bernama An-Nu’man bin Basyir melihat seorang laki-laki (أَحَدُنَا) yang menempelkan mata kaki, dengkul dan bahunya kepada temannya.

Nabi Saw tidak memerintahkan menempel kaki saat shalat berjama’ah, hanya ada seorang sahabat --yang tidak diketahui namanya-- melakukan hal itu.

Jumhur ulama di Indonesia juga tidak menyatakan keharusan menempelkan kaki atau bahu dalam shaf shalat.

Yang menempelkan kaki itu cuma seorang sahabat tak dikenal. Jumlah jamaah Nabi ada 1000 orang lebih. Lebih afdhol mengikuti 1000 orang jemaah seperti Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali ketimbang mengikuti 1 orang yang tidak dikenal.

Jadi menempel kaki itu bukan perintah Nabi. Bukan pula sunnah semua sahabat. Cuma sunah seorang sahabat yang tidak kita kenal namanya.

Dalam hadits kedua, Nu’man bin Basyiran melihat seorang laki-laki (الرَّجُلَ) yang menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya.

Kesimpulan: orang yang menempel kali mengikuti pendapat Syeikh Nashirudin Al-Albani yang mendapat gelar ahli hadits setelah membaca berbagai kitab hadits di perpustakaan.

Pendapat Syeikh Shalih al-Utsaimin

Ulama populer Arab Saudi, Syeikh Shalih al-Utsaimin, pernah ditanya tentang menempelkan mata kaki. Ia mengatakan:

أن كل واحد منهم يلصق كعبه بكعب جاره لتحقق المحاذاة وتسوية الصف, فهو ليس مقصوداً لذاته لكنه مقصود لغيره كما ذكر بعض أهل العلم, ولهذا إذا تمت الصفوف وقام الناس ينبغي لكل واحد أن يلصق كعبه بكعب صاحبه لتحقق المساواة, وليس معنى ذلك أن يلازم هذا الإلصاق ويبقى ملازماً له في جميع الصلاة.

Setiap masing-masing jamaah hendaknya menempelkan mata kaki dengan jamaah sampingnya, agar shaf benar-benar lurus. Tapi menempelkan mata kaki itu bukan tujuan intinya, tapi ada tujuan lain. Maka dari itu, jika telah sempurna shaf dan para jamaah telah berdiri, hendaklah jamaah itu menempelkan mata kaki dengan jamaah lain agar shafnya lurus. Maksudnya bukan terus-menerus menempel sampai selesai shalat. (Fatawa Arkan al-Iman)

Demikian ulasan tentang Ilzaq: Hukum Menempelkan Telapak Kaki Saat Shalat Jamaah. Tidak disunahkan, tapi juga tidak dilarang, sehingga hukumnya mubah (boleh), dengan catatan dari Syekh Utsaimin di atas. Wallahu a’lam.*

Inilah Islam
Inilah IslamUpdated: Sunday, June 03, 2018
thumbnail

Boleh Shalat Tahajud Setelah Tarawih?

Shalat Tahajud Setelah Tarawih. Di bulan Ramadhan, Tahajud itu = Tarawih. Waktunya Diawalkan --Ba'da Isya.

 Shalat Tahajud Setelah Tarawih
TANYA: Yth. Pa ustad ! Apa boleh setelah sholat taraweh terus sebelum subuh sholat tahajud. Trims. Wasalam. Trimakasih.  085861967XXX

Mana yang benar ? pa ust. 1. Selesai taraweh boleh sholat tahajud.atau tidak boleh..? 2. kalau boleh bagaimana caranya ? kalau tidak boleh kenapa ? wass didin. 08122326XXX

JAWAB: Di bulan Ramadhan, tahajud itu = tarawih.  Tarawih dan tahajud itu sama-sama disebut shalat malam atau Qiyamull Lail.

Sekali lagi, bisa dikatakan, tajahudnya bulan Ramadhan itu tarawih. Hanya saja waktunya diawalkan, yakni setelah shalat Isya, karena sebelum Subuh adalah waktunya Sahur.

Itulah keringanan Allah SWT bagi umatnya sekaligus keistimewaan bulan Ramadhan. Jadi, tarawih itu sama dengan tahajud.

Mari kita simak penkelasan berikut ini.

Di dalam salah satu tulisannya, di harian umum Republika, Dr Muhammad Hariyadi, MA, menulis, Rasulullah Saw tercatat tiga kali melakukan shalat tarawih di masjid yang diikuti oleh para sahabat pada waktu lewat tengah malam.

Khawatir shalat tarawih diwajibkan karena makin banyaknya sahabat yang turut berjamaah, pada malam ketiga Rasulullah lalu menarik diri dari shalat tarawih berjamaah dan melakukannya sendiri di rumah.

Pada saat selesai Shalat Subuh beberapa hari kemudian beliau menyampaikan konfirmasi :

“Sesungguhnya aku tidak khawatir atas yang kalian lakukan pada malam-malam lalu, aku hanya takut jika kegiatan itu (tarawih) diwajibkan yang menyebabkan kalian tidak mampu melakukannya.” (HR. Bukhari).

Dari tulisan Muhammad Hariyadi di atas, yaitu Rasulullah mengerjakan Shalat “Tarawih” adalah disaat biasanya umat muslim melakukan ibadah Shalat “Tahajud”, yakni pada waktu lewat tengah malam.

Di dalam  Al-Fatawa Al-Mukhtarah Thariqul Islam, Syekh Hamid bin Abdillah Al-Ali memberi keterangan sebagai berikut:

"Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat, baik Tarawih maupun Tahajud, dinamakan Qiyamul Lail."

Khusus di bulan Ramadan, terkadang ‘Qiyamul Lail‘ disebut juga ‘Qiyam Ramadhan‘. Rasulullah bersama para sahabat, melaksanakan shalat selama satu bulan di waktu awal malam sampai akhir malam.

Kemudian, setelah itu, kaum muslimin di generasi setelah beliau melaksanakan shalat ketika bulan Ramadan di awal malam, karena ini keadaan yang paling mudah bagi mereka.

Mereka juga mengerjakan Qiyamul Lail di penghujung malam, terutama pada sepuluh malam terakhir, dalam upaya mencari pahala yang lebih banyak dan mendapatkan Lailatul Qadar.

Selanjutnya, mereka menyebut kegiatan shalat di awal malam setelah isya, dengan nama ‘Shalat Tarawih’, dan mereka menyebut shalat sunah yang dikerjakan di akhir malam dengan nama ‘Shalat Tahajud’.

Semua itu, dalam bahasa Alquran, disebut ‘Tahajud‘ atau ‘Qiyamul Lail‘, dan tidak ada perbedaan antara keduanya dalam bahasa Alquran.

Dari uraian di atas, dapat kita pahami bahwa, istilah Shalat Tarawih, pada hakekatnya adalah Qiyamul Lail (yang biasa kita sebut sebagai Shalat Tahajud), yang waktu pelaksanaannya dikerjakan di bulan Ramadhan. Wallahu a’lamu bishshawab.*
Inilah Islam
Inilah IslamUpdated: Monday, May 21, 2018
thumbnail

Arti Mimpi Orang-Orang Beriman & Hindari Mimpi Buruk

Makna Mimpi Orang-Orang Beriman & Hindari Mimpi Buruk
Makna, Arti, Tafsir Mimpi Orang-Orang Beriman & Tips Mengindari Mimpi Buruk.

Mimpi adalah bunga tidur. Menurut psikiater Sigmund Freud, mimpi adalah jalan menuju alam bawah sadar. 

Menurutnya, makna aneh dalam mimpi (tafsir mimpi) dapat dijelaskan dan menjadi simbol mewakili konflik tertentu dalam hidup kita.

Jenis-jenis Mimpi

Tidak jarang mimpi itu menjadi kenyataan dan benar adanya. Menurut ahli-ahli ta’bir, mimpi ada tiga macam:
1. Mimpi Senang.

Peristiwa yang menggembirakan yang benar yang terjadi setelah bermimpi, dan ini tidak memerlukan penafsiran.
2. Mimpin Permainan Setan

Mimpi yang batil atau permainan setan yaitu mimpi yang tidak dapat dirinci atau diceritakan ulang secara detail oleh orang yang bermimpi.

Artinya, orang yang bermimpi itu tidak sanggup mengingat tertib atau jalan cerita mimpi itu. Mimpi seperti ini dianggap batil dan tidak mempunyai sebarang makna atau takwil.
3. Mimpi Keinginan nafsu. 

Nafsu ada tiga, yaitu nafsu mutmainnah, nafsu lawwamah, dan nafsu ammarah.

Mimpi seperti ini terjadi kerana pengaruh pikiran seseorang. Sesuatu yang dia lakukan atau dia hayalkan siang hari atau menjelang tidurnya selalu menjelma ketika tidurnya.

Rasulullah Saw bersabda:

"Mimpi itu ada tiga macam. Mimpi yang baik merupakan kabar gembira dari Allah. Mimpi yang menyedihkan berasal dari setan, dan mimpi yang datang dari obsesi seseorang. Jika salah seorang di antara kalian mimpi yang menyedihkan maka hendaklah dia bangun lalu shalat dan tidak menceritakannya pada orang lain” (HR Bukhari dan Muslim).

Makna Mimpi Orang Beriman

Menurut "Tafsir Mimpi" Imam Ibnu Sirin, pada prinsipnya mimpi yang baik itu bersumber dari aneka amal yang benar.

Dari mimpi yang baik itu muncullah aneka perintah, larangan, berita gambira, dan peringatan.

Mimpi yang baik merupakan sisa dan bagian dari kenabian, sebab ada nabi yang wahyunya berupa mimpi.

"Mimpi insan yang bertakwa merupakan informasi yang akan berlaku. Sedangkan mimpi insan yang tidak beriman merupakan berita yang disebarkan oleh syaitan," kata Ibnu Sirin.

Tafsir Mimpi Menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda:

“Jika masa semakin dekat, mimpi seorang Muslim nyaris tidak pernah dusta. Muslim yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur perkataannya. Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian kenabian. (Muttafaq 'Alaih).

"Mimpi ada tiga macam: mimpi yang baik sebagai berita gembira dari Allah ‘azza wa jalla, mimpi seorang muslim yang dialami oleh dirinya sendiri, dan mimpi sedih yang berasal dari setan. Jika salah seorang di antara kamu mengalami mimpi yang tidak disukai, janganlah menceritakannya kepada orang lain, bangunlah, kemudian solatlah.” (Muttafaq ‘alaih).

Dari ‘Ubadah ibnush-Shamit, ia bertanya kepada Rasulullah Saw tentang QS Yunus ayat 63-63 (Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan di akhirat), Rasulullah menjawab:

“Sungguh kamu telah menanyakan sesuatu kepadaku yang belum pernah ditanyakan oleh seorang pun selainmu. Al-busyra ialah mimpi yang baik yang dialami oleh seseorang atau dianugerahkan Allah kepadanya.” (As-Silsilah ash-Shahihah).

Tips Menghindari Mimpi Buruk

Agar terhindari dari mimpi buruk atau mengerikan, kaum Muslim dianjurkan tidur dalam keadaan suci (punya wudhu), miring atau berbaring ke arah kanan, dan baca doa tidur.

Abu Dzar berkata, “Kekasihku (Muhammad saw.) memberikan tiga pesan kepadaku yang tidak pernah aku tinggalkan hingga mati. Yaitu, puasa tiga hari pada setiap bulan, dua rakaat shalat fajar, dan tidak tidur kecuali punya wudhu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Tidur dengan berbaring ke sisi kanan tubuh dicontohkan Nabi Saw yang menyukai bagian kanan dalam segala hal. Diriwayatkan, beliau tidur pada sisi kanan tubuhnya seraya meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanan, lalu berdoa, “Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu pada saat Engkau mengumpulkan hamba-hamba- Mu.” (HR Tirmidzi dan Abu Dawud).
          
Jika seseorang mengalami mimpi yang tidak disukai, disunnahkan melakukan hal-hal berikut ini:
  1. Mengubah posisi tidur
  2. Meludah ke kiri sebanyak tiga kali
  3. Memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk
  4. Bangun dan shalat
  5. Tidak menceritakan mimpinya kepada siapa pun.
Abu Sa’ad berkata, “Pelaku mimpi hendaknya memelihara etika yang perlu dipegang teguh dan memiliki batasan-batasan yang selayaknya tidak dilampaui. Demikian pula halnya dengan pentakwil.” Etika pelaku mimpi ialah, pertama, dia tidak menceritakan mimpinya kepada orang yang hasud sebagaimana dikatakan Ya’kub kepada Yusuf, “Ayahnya berkata, ‘Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudarasaudaramu, maka mereka akan membuat makar untuk membinasakanmu.’” (QS. Yusuf: 5)

Demikian ulasan ringkas tentang makna atau arti mimpin bagi orang beriman dan kiat menghindari mimpi buru dalam tidur.

Mari, ucapkan doa "bismika Allahumma ahya wa bismika amut" sebelum tidur. Semoga tidur kita berkah, bernilai ibadah, dan mendapatkan mimpi yang baik. Have a nice dream! Amin...! Wallahu a'lam bish-shawabi.*

Inilah Islam
Inilah IslamUpdated: Wednesday, February 14, 2018