Fondasi Islam: Tauhid


Ajaran agama Islam dibangun atas fondasi ideologis berupa pengetahuan (ma’rifat) dan keimanan kepada keesaan Allah SWT (tauhid), meliputi:
A. Tauhid Rububiyah
Yakni meyakini bahwa hanya Allah yang Rab atau Tuhan yang menciptakan dan mengatur alam semesta dan segala urusan. Hanya Allah yang memberi rezeki, menghidupkan, dan mematikan. Oleh karena itu, hubungan antara manusia dengan Allah harus ditandai dengan kepasrahan, ketundukan, dan ketaatan.
B. Tauhid Uluhiyah.
Yakni meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Ilah atau Tuhan yang berhak disembah (ma’bud). Hanya kepada-Nya segala pengabdian dan permintaan ditujukan. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana kandungan kalimat thayibah “Laa Ilaaha Illallaah” (Tidada Tuhan selain Allah). Siapa yang berikrar dengan kalimat tersebut, berarti dia bersedia mematuhi kehendak Allah dan tidak akan mengakui kekuasaan selain kekuasaan-Nya[1].
“Karena sesungguhnya Allah. Dialah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil...” (Q.S. 22:62, 31:30).
“Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah...” (Q.S. 47:19).
Konsep tauhid menuntun manusia untuk tetap menempatkan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan. Kepada-Nyalah ia mengabdi. Segala hukum-Nya ditaati. Larangan-Nya dijauhi dan perintah-Nya dijalankan. Umat manusia seluruhnya pada hakikatnya berjiwa tauhid, karenanya ajaran Islam sesuai dengan fitrah manusia yang berjiwa tauhid.
Lawan tauhid adalah syirik, menyekutukan Allah SWT, meyakini Tuhan lebih dari satu, atau meyakini ada sesuatu yang setara kekuatan dan kharismanya dengan Tuhan. Dan dosa syirik ini tidak diampuni-Nya.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni perbuatan syirik, tetapi Dia mengampuni selain dari itu..." (Q.S. 4:48).
Tauhid akan melahirkan amal perbuatan yang tertuju semata-mata karena Allah SWT (ikhlas). Artinya, mencari keridhaan-Nya semata. Dengan demikian, hukum Allah SWT senantiasa menjadi acuan dalam perilakunya. Bagi Muslim, hal ini tercermin dalam bacaan Doa Iftitah dalam shalat: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah demi Allah Pencipta alam semesta" (inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil 'alamin). Juga, tercermin dalam bacaan Q.S. Al-Fatihah,
“Hanya kepada-Mu (wahai Allah) kami menyembah dan hanya kepada-Mu jua kami memohon pertolongan”. Wallahu a'lam.


[1] Abul A’la Al-Maududi, Khilafah dan Imamah, Mizan Bandung, 1993.

Terima kasih sudah membaca Fondasi Islam: Tauhid . Mari sebarkan kebaikan!

Previous
« Prev Post

Artikel tentang Islam & Muslim lainnya

Inilah Islam
Inilah IslamUpdated: Monday, January 14, 2013

0 comments:

Post a Comment